BLOGGER TEMPLATES AND Friendster Layouts »

Pilot Curi Pakaian Dalam Perempuan Sebelum Membunuh



 
Pilot Curi Pakaian Dalam Perempuan sebelum Menghabisinya

Mengejutkan. Kolonel Russell Williams (47) pilot elit mantan komandan militer Kanada harus menghadapi sidang di pengadilan setempat terkait tuduhan pencurian pakaian dalam wanita, pelecehan seksual, pembunuhan dan pencurian 82 kali.

Pilot handal kelahiran 7 Maret 1963 itu juga pernah menerbangkan Sang Ratu serta menjadi komandan terbesar pangalan Angkatan Udara Kanada,  berdedikasi dan memiliki performa yang tinggi. Namun belakangan rakyat Kanada terkejut dengan kasus yang membelitnya. Dia bekerja  sebagai perwira staf yang bertanggung jawab atas pesawat angkut  komandan Angkatan Udara.

Di pengadilan setempat, dia didakwa telah membunuh dua perempuan, pelecehan  seksual dan telah mencuri 82 kali di rumah sekitar dia tinggal. Pria yang juga pernah menerbangkan PM Kanada ini dikenal sebagai high profile namun harus menghadapi tuduhan menjadi pembuh berantai.

Dalam sidang yang digelar Kamis (7/10/2010) waktu setempat, terungkap Williams telah membunuh Jessica Lloyd (27) yang tubuhnya ditemukan  bulan Februari 2010 dan  Marie Comeau (38) tentara wanita berpangkat kopral di bawah komandonya yang ditemukan tewas di rumahnya November tahun lalu.

Tuduhan bertambah lengkap, karena sang Kolonel ini sering memasuki rumah wanita, mencuri pakaian dalamnya dan memperkosanya. Rumah rumah yang telah disatroninya berada di daerah Ontario, September 2009.

Tidak itu saja, sudah sebanyak 47 rumah yang dia rampok di tahun 2007 bahkan ada sebagian rumah yang berulang kali disatroninya beralamat di jalan yang sama.

Letnan Jenderal (purn) Angus mengaku kaget atas kasus yang menimpa Kolonel Williams. "Ini aneh. Aku belum pernah melihat hal seperti itu. Mengejutkan semua orang karena dia adalah seorang perwira tinggi dalam posisi kepemimpinan, tapi semakin kita belajar tentang hal itu semakin anda menyadari hal ini adalah tindakan individu bejat tunggal," katanya dikutip telegraph.co.uk

TRIBUNNEWS.COM

0 komentar: